Langsung ke konten utama

Munawwar Harap Pemilukada Di Aceh Berjalan Baik Dan Lancar

Photo: Koleksi Pribadi
Banda Aceh -   Munawwar Koordinator Political Club Prodi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala berharap pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah di tiga Kabupaten di Aceh yaitu: Aceh Selatan, Pidie Jaya dan Subusalam yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018 atapun seminggu lebih sedikit pasca idul Fitri 1439 H dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kecurangan, karena tentunya proses pemilihan kepala daerah yang baik dan bersih tentunya dapat menghasilkan pemimpin yang baik. 
"Kunci utama dalam melahirkan pemimpin yang baik tidak lain dan tidak bukan ada pada prosesnya. Pemilu menjadi barometer bahwa nilai- nilai demokrasi sudah di implementasi. Ada kecemasan yang selalu menghantui pelaksanaan pesta demokrasi di Aceh, yaitu: Adanya praktek money politik dan intimidasi yang akan terjadi". Jelas Munawar

Memang kedua hal itu,  menjadi dua hal yang berpotensi terjadi,  di tambah lagi kondisi perpolitikan di Aceh yang masih berada dalam kategori kurang stabil.  Ketidak stabilitas kondisi politik juga dipengaruhi oleh karakter masyarakat Aceh yang keras,  karakter ini di bentuk oleh kondisi dan keadaan Aceh yang sering berkonflik. 
Untuk memastikan pelaksanaan pemilihan kepala daerah berjalan dengan baik di tiga kabupaten tersebut.
"maka kita berharap partisipasi aktif masyarakat di tiga kabupaten tersebut menjadi hal yang cukup penting, sehingga proses pelaksanaan pemilihan umum tersebut dapat berjalan dengan baik,  tanpa terjadi kecurangan sedikit pun". Sambung Munawwar selaku Koordinator Political Club. 
Maka akan sebaliknya apabila masyarakat pasif dan tidak peduli terhadap pelaksanaan pesta demokrasi tersebut, pihak penyelenggara dan pengawas pemilu tentu akan sangat kewalahan mengawal pelaksanaan pemilihan Kepala daerah di tiga kabupaten tersebut, tanpa adanya partisipasi yang aktif dari masyarakat.
sumber: (http://www.koranindependen.co/munawar-harap-pemilukada-di-aceh-berjalan-baik-dan-lancar.html) dan telah diterbitkan:14 Juni 2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekofilosofi Deforestasi: Tinjauan Sosial dan Lingkungan di Kota dan Kabupaten Bima

  Oleh: Muhammad Muhajir Ansar & Muhammad Rahul Mulyanto* Deforestasi merupakan kondisi luas hutan yang mengalami penurunan akibat adanya konvensi hutan lahan untuk pemukiman, pertanian, infrastruktur, perkebunan, dan pertambangan. Perubahan lahan hutan menjadi lahan non hutan dapat menyebabkan pemanasan global, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya karena akibat dari kebakaran hutan, dan penebangan kayu yang berlebihan. Deforestasi sangat berkaitan dengan penebangan atau pembalakan liar yang dapat mengancam seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun manusia. Kota Bima dan Kabupaten Bima, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan alam berupa hutan yang penting bagi ekosistem lokal, dan masyarakat sekitarnya. Namun, alih-alih untuk menjaga kekayaan alamnya, wilayah sedang menghadapi ancaman deforestasi yang sangat signifikan. Perubahan lahan hutan di Bima telah berdampak pada berbagai aspek, seperti, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat, terutam...

Penindasan Tidak Akan Berakhir

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Penindasan bukan bagian dari fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Penindasan terjadi sudah berabad-abad yang lalu, dan akan tetap terus ada jika manusia masih menjadi penghuni bumi. Meskipun berbagai macam upaya yang terealisasi untuk melawan, mengakhiri, atau mengurangi praktik penindasan, kenyataannya bentuk-bentuk penindasan masih dirasakan oleh manusia hingga dewasa ini. Mengapa demikian? Karena sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya justru mendorong bahkan menerapkan praktik-praktik yang menindas tanpa sadar ataupun tidak. Saya akan mengawali pada sistem politik, sistem politik dari masa pra-revolusi perancis, pasca revolusi prancis, hingga saat ini sistem politik menjadi bagian paling penting pada penerapan praktik penindasan yang dilakukan oleh elit-elit birokrat pada masyarakat. Kebijakan-kebijakan politik dibentuk atas kesepakatan mereka-mereka saja tanpa melibatkan masyarakat yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyara...

Duek Pakat Perdamaian: Generasi Muda Aceh Perkuat Silaturahmi Lintas Iman

Jantho, Aceh Besar -  Generasi muda Aceh dari berbagai latar belakang, lintas agama dan suku berkumpul dalam kegiatan Duek Pakat Perdamaian: Menjalin Silaturahmi Lintas Iman pada 26–27 April 2025 di Jantho Baru, Kabupaten Aceh Besar. Acara yang diinisiasi oleh Peace Generation Aceh ini bertujuan memperkuat kepemimpinan damai anak muda melalui dialog lintas iman, edukasi nilai-nilai perdamaian, serta simulasi manajemen konflik. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan generasi muda yang menjadi motor penggerak masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan damai,” ujar Teuku Avicenna Al Maududdy, Koordinator Umum Peace Generation Aceh. Kegiatan dua hari ini diisi dengan berbagai sesi, seperti refleksi 12 nilai dasar perdamaian, scriptural reasoning (dialog lintas iman berbasis kitab suci), hingga ruang refleksi malam untuk memperkuat solidaritas dan ruang kemerdekaan berpendapat antar peserta. Acara ditutup dengan sesi saling memaafkan untuk mempererat rasa kebersamaan. Ti...