Langsung ke konten utama

Tembang Bintang Masa Depan



Sumber : Google
Kau yang selalu ingin dihormati
Kau yang selalu ingin dihargai                                                     
Kau yang selalu ingin didengari
Dan kau yang selalu ingin di akui

Terkadang aku beku
Menyaksikan kepongahanmu menatapku                            
Dan seketika aku bisu
Menangkap keacuhanmu mendengarku

Tetapi, sadarkah engkau?
Bahwa aku di sini sedang bernyanyi                                         
Berharap untuk didengar
Menari, berharap untuk dilihat

Aku butuh penghargaanmu
Aku butuh perhatianmu dan tentu
Aku butuh kasih sayangmu
Namun, semuanya,.. seakan bertepi
Melingkari posisiku tanpa gubrisan sama sekali                  
Apakah aku tak pernah ada di matamu?
Ketika aku mulai putus asa
Mengungkapkan cinta dengan berbagai bahasa
Mentari seakan hadir membawa berita
Kala kudapat senyummu di ujung sana

Ya, ketika tembang masa depan
Diperdengarkan dari jendela ke jendela
Menjaring perjuangan dan menggenggam kebersamaan                              
Kita seakan bersatu,.. menyeru kehidupan
Menuju cita yang telah lama terbenam
Perlahan semua keluh dan kesah enyah
Terbingkai dalam sebuah keindahan kisah
Pengobat resah
Yang awalnya membuatku gundah

Tutur ucapmu telah meyakinkanku
Ada sesosok jiwa menyayangiku di sana                                                                
Seperti tangga yang kita naiki bersama
Menjadi saksi bisu
Tentang kebersamaan kita selama ini




Raihlah, serona jingga asa
Yang selama ini berpijar dalam harapmu
Karena aku tau, masa depanmu
Sudah di ujung kuku                                                                       
Gapai bintangmu
Dengan segenap keyakinan dan semangat perjuangan

Percayalah, rangkaian doa akan senantiasa kami kirimkan untukmu,.. kakak…
Karena  kita adalah bagian dari gugusan bintang itu          
Bintang yang siap untuk bersinar
Bersama impian dalam tembang masa depan


Susoh, 25 April 2012
Bersama kawan di penghujung bayang
Riva Ul Fitri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekofilosofi Deforestasi: Tinjauan Sosial dan Lingkungan di Kota dan Kabupaten Bima

  Oleh: Muhammad Muhajir Ansar & Muhammad Rahul Mulyanto* Deforestasi merupakan kondisi luas hutan yang mengalami penurunan akibat adanya konvensi hutan lahan untuk pemukiman, pertanian, infrastruktur, perkebunan, dan pertambangan. Perubahan lahan hutan menjadi lahan non hutan dapat menyebabkan pemanasan global, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya karena akibat dari kebakaran hutan, dan penebangan kayu yang berlebihan. Deforestasi sangat berkaitan dengan penebangan atau pembalakan liar yang dapat mengancam seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun manusia. Kota Bima dan Kabupaten Bima, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan alam berupa hutan yang penting bagi ekosistem lokal, dan masyarakat sekitarnya. Namun, alih-alih untuk menjaga kekayaan alamnya, wilayah sedang menghadapi ancaman deforestasi yang sangat signifikan. Perubahan lahan hutan di Bima telah berdampak pada berbagai aspek, seperti, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat, terutam...

TERPENJARA OLEH GELAR: REALITAS SOSIAL KAUM TERDIDIK

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Dibalik kesenangan dan sorak sorai keluarga saat seseorang mencapai puncak pada pendidikan (di wisuda), atau bahkan dibalik tepuk tangan publik atas gelar akademik yang diraih oleh seseorang, tersembunyi sebuah beban yang jarang dibicarakan, “Beban Untuk Sempurna”. Masyarakat tidak hanya memberikan sebuah pujian dan penghargaan atas gelar yang dicapai pada mereka yang berpendidikan, tapi juga menempatkan mereka dalam sebuah ekspetasi yang sempit dan seringkali menyesakkan. Orang-orang berpendidikan bukan hanya dituntut untuk selalu berpikir jernih dan benar, tetapi juga harus bersikap dengan baik, bebrbicara yang benar, dan bahkan bercanda pun harus mengikuti standart dari etika sosial. Pada perihal ini pendidikan menjadi beban yang menghalangi kebebasan dari orang yang berpendidikan. Padahal jika dianalisis lebih dalam Pendidikan menjadi sebuah wadah untuk berpikir kritis dan memberikan kebebasan pada mereka yang juga kaum terpelajar. Namun, dewasa...

Penindasan Tidak Akan Berakhir

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Penindasan bukan bagian dari fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Penindasan terjadi sudah berabad-abad yang lalu, dan akan tetap terus ada jika manusia masih menjadi penghuni bumi. Meskipun berbagai macam upaya yang terealisasi untuk melawan, mengakhiri, atau mengurangi praktik penindasan, kenyataannya bentuk-bentuk penindasan masih dirasakan oleh manusia hingga dewasa ini. Mengapa demikian? Karena sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya justru mendorong bahkan menerapkan praktik-praktik yang menindas tanpa sadar ataupun tidak. Saya akan mengawali pada sistem politik, sistem politik dari masa pra-revolusi perancis, pasca revolusi prancis, hingga saat ini sistem politik menjadi bagian paling penting pada penerapan praktik penindasan yang dilakukan oleh elit-elit birokrat pada masyarakat. Kebijakan-kebijakan politik dibentuk atas kesepakatan mereka-mereka saja tanpa melibatkan masyarakat yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyara...