Langsung ke konten utama

Himapol Dukung Penuh Berkabar Coorporation ,Wadah Jurnalistik Politik

Banda Aceh – Haba Himpunan : Himapol (Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik) Univesritas Syiah Kuala secara resmi mendukung Pembentukan Wadah jurnalistik Mahasiswa Ilmu Politik yang bernama Berkabar Coorporation di Zakir Kupi Darussalam Banda Aceh,kamis (24/4/2915).

Audiensi dengar pendapat bersama pengurus inti Himapol dan Berkabar Coorporation
Pernyataan tersebut disampaikan ketua Himapol Candra saat menghadiri sesi Audiensi dengar pendapat bersama pengurus inti Himapol dan pihak Berkabar Coorporation .

“Berkabar coorporation resmi menjadi salah satu unit yang bernaung dibawah himpunan mahasiswa ilmu politik (Himapol), dan Kita akan berupaya bersama-sama memfasilitasi semua yang menjadi kebutuhan anggota Berkabar Coorporation  “jelas candra.

Armia selaku Kabid Humas Berkabar Coorporation menyambut baik pernyataan ketua himapol tersebut Dan berharap Berkabar Coorporation mendapat legalitas di bawah keluarga besar Mahasiswa Ilmu Politik.

“Kita berharap agar nantinya setelah kesepakatan ini Berkabar Coorporation bisa memulai aktifitas jurnalistiknya mengingat semua anggota Berkabar Coorporation sudah mendapat pelatihan oleh beberapa wartawan senior”tukas Armia

Ditambahkannya kemungkinan pada September mendatang Berkabar Coorporation Akan menggelar launching portal berita yang dihadiahi oleh pimpinan umum Tgk. Muhammad Rusydi DR.

“Kita Akan menggelar launching portal berita September mendatang Dan Kita harapkan sebelum launching nantinya semua uruapan administari Dan kerjasama sudah selesai”.

Diakhir audiensi seluruh anggota Berkabar Coorporation Dan juga pengurus inti Himapol juga sempat foto bersama.


Foto bersama  pengurus inti Himapol dan Berkabar Coorporation

Sumber :https://himapolunsyiah2014.wordpress.com/2015/04/23/himapol-dukung-penuh-berkabar-coorporation-wadah-jurnalistik-politik/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekofilosofi Deforestasi: Tinjauan Sosial dan Lingkungan di Kota dan Kabupaten Bima

  Oleh: Muhammad Muhajir Ansar & Muhammad Rahul Mulyanto* Deforestasi merupakan kondisi luas hutan yang mengalami penurunan akibat adanya konvensi hutan lahan untuk pemukiman, pertanian, infrastruktur, perkebunan, dan pertambangan. Perubahan lahan hutan menjadi lahan non hutan dapat menyebabkan pemanasan global, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya karena akibat dari kebakaran hutan, dan penebangan kayu yang berlebihan. Deforestasi sangat berkaitan dengan penebangan atau pembalakan liar yang dapat mengancam seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun manusia. Kota Bima dan Kabupaten Bima, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan alam berupa hutan yang penting bagi ekosistem lokal, dan masyarakat sekitarnya. Namun, alih-alih untuk menjaga kekayaan alamnya, wilayah sedang menghadapi ancaman deforestasi yang sangat signifikan. Perubahan lahan hutan di Bima telah berdampak pada berbagai aspek, seperti, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat, terutam...

TERPENJARA OLEH GELAR: REALITAS SOSIAL KAUM TERDIDIK

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Dibalik kesenangan dan sorak sorai keluarga saat seseorang mencapai puncak pada pendidikan (di wisuda), atau bahkan dibalik tepuk tangan publik atas gelar akademik yang diraih oleh seseorang, tersembunyi sebuah beban yang jarang dibicarakan, “Beban Untuk Sempurna”. Masyarakat tidak hanya memberikan sebuah pujian dan penghargaan atas gelar yang dicapai pada mereka yang berpendidikan, tapi juga menempatkan mereka dalam sebuah ekspetasi yang sempit dan seringkali menyesakkan. Orang-orang berpendidikan bukan hanya dituntut untuk selalu berpikir jernih dan benar, tetapi juga harus bersikap dengan baik, bebrbicara yang benar, dan bahkan bercanda pun harus mengikuti standart dari etika sosial. Pada perihal ini pendidikan menjadi beban yang menghalangi kebebasan dari orang yang berpendidikan. Padahal jika dianalisis lebih dalam Pendidikan menjadi sebuah wadah untuk berpikir kritis dan memberikan kebebasan pada mereka yang juga kaum terpelajar. Namun, dewasa...

Penindasan Tidak Akan Berakhir

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Penindasan bukan bagian dari fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Penindasan terjadi sudah berabad-abad yang lalu, dan akan tetap terus ada jika manusia masih menjadi penghuni bumi. Meskipun berbagai macam upaya yang terealisasi untuk melawan, mengakhiri, atau mengurangi praktik penindasan, kenyataannya bentuk-bentuk penindasan masih dirasakan oleh manusia hingga dewasa ini. Mengapa demikian? Karena sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya justru mendorong bahkan menerapkan praktik-praktik yang menindas tanpa sadar ataupun tidak. Saya akan mengawali pada sistem politik, sistem politik dari masa pra-revolusi perancis, pasca revolusi prancis, hingga saat ini sistem politik menjadi bagian paling penting pada penerapan praktik penindasan yang dilakukan oleh elit-elit birokrat pada masyarakat. Kebijakan-kebijakan politik dibentuk atas kesepakatan mereka-mereka saja tanpa melibatkan masyarakat yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyara...