Langsung ke konten utama

Merubah Mindset Masyarakat Pidie Jaya Pasca Gempa





Oleh: Munawwar

Gempa yang menimpa Daerah Aceh 3 tahun silam, meninggalkan dampak yang besar bagi masyarakat Aceh terutama wilayah yang menjadi pusat Gempa yaitu Kabaputen Pidie Jaya (Pijay). Masyarakat Pijay tidak begitu familiar dengan gempa yang selanjutnya menjadi musibah besar yang tidak terbayangkan. Meskipun Aceh secara Nasional dan Internasional pernah tercatat dalam sejarah mengalami Musibah Maha Dasyat yaitu Tsunami di tahun 2004 silam. Musibah Tsunami 15 tahun silam telah membuka kran mata masyarakat Internasional kepada Aceh. Masyarakat Pijay tidak memperoleh literasi ideal dan kompherensif tentang Ilmu Kegempaan.
            Gempa di Pijay dengan Gempa di tahun 2004 memiliki perbedaan. Pertama, secara kejadiaan peristiwa, kejadian tsunami terjadi dipagi hari sekitar jam 7.30 Wib sedangkan Gempa yang berpusat di Pijay tersebut terjadi pukul 05.03 Wib. Pukul tersebut pada lazimnya masyarakat berada pada kondisi tertidur lelap dan sebagiannya sedang bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Shubuh. Kedua, Gempa di Pijay dimulai dengan guncangan dari bawah ke atas sedangkan Gempa 2004 silam dimulai dengan guncangan dari kiri kekanan dan sebaliknya. Disamping itu juga Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja menyatakan “energi Guncangan gempa itu setara dengan energi yang dilepaskan bom Atom Hiroshima Jepang 1945. (Dokumentasi dari BNPB). Dampak dari perbedaan guncangan ini menyebabkan banyak sekali bangunan yang mengalami kerusakan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  mencatat 11.730 rumah rusak, 105 unit ruko roboh, 14 mesjid rusak berat, satu rumah sakit rusak berat dan satu Unit sekolah roboh. (Dokumentasi dari BNPB).
            Pasca gempa tersebut terindetifikasi 104 orang meninggal, 139 orang luka berat, 718 luka ringan serta 43. 529 mengungsi. (Dokumentasi dari BNPB). Tentunya ada persoalan yang lahir secara alamiah terhadap korban dan masyarakat Pidie Jaya, yaitu truma pasca gempa. Truma dari gempa diindetifikasi sebagai truma yang dirasakan secara langsung dan terbentuk secara mengakar apabila dibandingkan dengan trauma secara tidak langsung. Dalam hal ini, penulis mencoba menganalisi secara mendalam dan juga mengemukakan pendapat ataupun konsep secara rasional-sistematis untuk Mengubah mingset yang dihasilkan pasca gempa. namun menurut hemat penulis ada beberapa tahapan yang patut dicoba dengan tekad dan konsisten InsyAllah apa yang dipikirkan tersebut dapat diwujudkan
            Pertama, mengidentifikasi apa yang terjadi terhadap masyarakat, maksudnya bagaimana?  Maksudnya begini, masyarakat Pidie Jaya secara umum dan secara khusus masyarakat yang terkena musibah gempa secara langsung diberikan ruang untuk bercerita dan menyampaikan apa yang dirasakan secara bebas. Tujuan dari tahapan ini, adalah untuk menenangkan masyarakat dan juga sebagai upaya untuk mengabarkan bahwa mereka tidak sendiri dan masih banyak orang yang peduli dengan mereka sehingga tidak perlu khawatir dan memedam perasaan sedih sendirian.
            Kedua, memberikan pemahaman dan sebab bencana gempa tersebut, memberikan pemahaman ini maksudnya sebagai upaya untuk menghilangkan rasa amarah. Rasa marah hadir sebagai tahapan untuk mengepresikan sesuatu yang dirasakan oleh seseorang secara tiba-tiba dan juga ketidakrelaan terhadap kondisi tersebut, maka untuk menghilangkan hal tersebut adalah dengan memberikan pemahanan dan juga pengetahuan kepada masyarakat tersebut secara langsung dengan menghadirkan data-data secara benar.
            Ketiga atau yang terakhir adalah dengan mengajak ke titik gempa yang pernah dialami tersebut. Maksudnya disini, bahwa raGempa yang menimpa Daerah Aceh 3 tahun silam, meninggalkan dampak yang besar bagi masyarakat Aceh terutama wilayah yang menjadi pusat Gempa yaitu Kabaputen Pidie Jaya (Pijay). Masyarakat Pijay tidak begitu familiar dengan gempa yang selanjutnya menjadi musibah besar yang tidak terbayangkan. Meskipun Aceh secara Nasional dan Internasional pernah tercatat dalam sejarah mengalami Musibah Maha Dasyat yaitu Tsunami di tahun 2004 silam. Musibah Tsunami 15 tahun silam telah membuka kran mata masyarakat Internasional kepada Aceh. Masyarakat Pijay tidak memperoleh literasi ideal dan kompherensif tentang Ilmu Kegempaan.

            Gempa di Pijay dengan Gempa di tahun 2004 memiliki perbedaan. Pertama, secara kejadiaan peristiwa, kejadian tsunami terjadi dipagi hari sekitar jam 7.30 Wib sedangkan Gempa yang berpusat di Pijay tersebut terjadi pukul 05.03 Wib. Pukul tersebut pada lazimnya masyarakat berada pada kondisi tertidur lelap dan sebagiannya sedang bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Shubuh. Kedua, Gempa di Pijay dimulai dengan guncangan dari bawah ke atas sedangkan Gempa 2004 silam dimulai dengan guncangan dari kiri kekanan dan sebaliknya. Disamping itu juga Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja menyatakan “energi Guncangan gempa itu setara dengan energi yang dilepaskan bom Atom Hiroshima Jepang 1945. (Dokumentasi dari BNPB). Dampak dari perbedaan guncangan ini menyebabkan banyak sekali bangunan yang mengalami kerusakan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  mencatat 11.730 rumah rusak, 105 unit ruko roboh, 14 mesjid rusak berat, satu rumah sakit rusak berat dan satu Unit sekolah roboh. (Dokumentasi dari BNPB).
            Pasca gempa tersebut terindetifikasi 104 orang meninggal, 139 orang luka berat, 718 luka ringan serta 43. 529 mengungsi. (Dokumentasi dari BNPB). Tentunya ada persoalan yang lahir secara alamiah terhadap korban dan masyarakat Pidie Jaya, yaitu truma pasca gempa. Truma dari gempa diindetifikasi sebagai truma yang dirasakan secara langsung dan terbentuk secara mengakar apabila dibandingkan dengan trauma secara tidak langsung. Dalam hal ini, penulis mencoba menganalisi secara mendalam dan juga mengemukakan pendapat ataupun konsep secara rasional-sistematis untuk Mengubah mingset yang dihasilkan pasca gempa. namun menurut hemat penulis ada beberapa tahapan yang patut dicoba dengan tekad dan konsisten InsyAllah apa yang dipikirkan tersebut dapat diwujudkan
            Pertama, mengidentifikasi apa yang terjadi terhadap masyarakat, maksudnya bagaimana?  Maksudnya begini, masyarakat Pidie Jaya secara umum dan secara khusus masyarakat yang terkena musibah gempa secara langsung diberikan ruang untuk bercerita dan menyampaikan apa yang dirasakan secara bebas. Tujuan dari tahapan ini, adalah untuk menenangkan masyarakat dan juga sebagai upaya untuk mengabarkan bahwa mereka tidak sendiri dan masih banyak orang yang peduli dengan mereka sehingga tidak perlu khawatir dan memedam perasaan sedih sendirian.
            Kedua, memberikan pemahaman dan sebab bencana gempa tersebut, memberikan pemahaman ini maksudnya sebagai upaya untuk menghilangkan rasa amarah. Rasa marah hadir sebagai tahapan untuk mengepresikan sesuatu yang dirasakan oleh seseorang secara tiba-tiba dan juga ketidakrelaan terhadap kondisi tersebut, maka untuk menghilangkan hal tersebut adalah dengan memberikan pemahanan dan juga pengetahuan kepada masyarakat tersebut secara langsung dengan menghadirkan data-data secara benar.
            Ketiga atau yang terakhir adalah dengan mengajak ke titik gempa yang pernah dialami tersebut. Maksudnya disini, bahwa rasa trauma baru bisa hilang ketika sudah yakin dengan kondisi dan telah berada pada titik aman. Oleh sebab itu, hal tersebut baru bisa diyakin ketika orang tersebut tidak meninggalkan bekas luka tersebut.
            Maka oleh sebab itu, suatu keniscayaan apabila mingset masyarakat Pijay pasca Musibah Gempa tahun 2016 belum bisa terubah. Dengan berimplikasi terhadap ketidakterwujudkan Aceh Tangguh terutama tangguh pasca musibah gempa tersebut. Diakhir penulis mengutip kata-kata dari Soekarno “jangan lupakan sejarah”. Musibah gempa tersebut memang tidak bisa ditolak dan sebagainya namun, gempa tersebut dijadikan pembelajaran kedepan untuk sigap ataujuga mendesign struktur bangunan dan pengetahuan generasi muda tentang Kebencanaan, maka oleh sebab itu Aceh Tangguh bukan sesuatu yang utopis namun merupakan perwujudan yang akan segera terimplemetasikan.            

 trauma baru bisa hilang ketika sudah yakin dengan kondisi dan telah berada pada titik aman. Oleh sebab itu, hal tersebut baru bisa diyakin ketika orang tersebut tidak meninggalkan bekas luka tersebut.
            Maka oleh sebab itu, suatu keniscayaan apabila mingset masyarakat Pijay pasca Musibah Gempa tahun 2016 belum bisa terubah. Dengan berimplikasi terhadap ketidakterwujudkan Aceh Tangguh terutama tangguh pasca musibah gempa tersebut. Diakhir penulis mengutip kata-kata dari Soekarno “jangan lupakan sejarah”. Musibah gempa tersebut memang tidak bisa ditolak dan sebagainya namun, gempa tersebut dijadikan pembelajaran kedepan untuk sigap ataujuga mendesign struktur bangunan dan pengetahuan generasi muda tentang Kebencanaan, maka oleh sebab itu Aceh Tangguh bukan sesuatu yang utopis namun merupakan perwujudan yang akan segera terimplemetasikan.            


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekofilosofi Deforestasi: Tinjauan Sosial dan Lingkungan di Kota dan Kabupaten Bima

  Oleh: Muhammad Muhajir Ansar & Muhammad Rahul Mulyanto* Deforestasi merupakan kondisi luas hutan yang mengalami penurunan akibat adanya konvensi hutan lahan untuk pemukiman, pertanian, infrastruktur, perkebunan, dan pertambangan. Perubahan lahan hutan menjadi lahan non hutan dapat menyebabkan pemanasan global, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya karena akibat dari kebakaran hutan, dan penebangan kayu yang berlebihan. Deforestasi sangat berkaitan dengan penebangan atau pembalakan liar yang dapat mengancam seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun manusia. Kota Bima dan Kabupaten Bima, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan alam berupa hutan yang penting bagi ekosistem lokal, dan masyarakat sekitarnya. Namun, alih-alih untuk menjaga kekayaan alamnya, wilayah sedang menghadapi ancaman deforestasi yang sangat signifikan. Perubahan lahan hutan di Bima telah berdampak pada berbagai aspek, seperti, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat, terutam...

Penindasan Tidak Akan Berakhir

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Penindasan bukan bagian dari fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Penindasan terjadi sudah berabad-abad yang lalu, dan akan tetap terus ada jika manusia masih menjadi penghuni bumi. Meskipun berbagai macam upaya yang terealisasi untuk melawan, mengakhiri, atau mengurangi praktik penindasan, kenyataannya bentuk-bentuk penindasan masih dirasakan oleh manusia hingga dewasa ini. Mengapa demikian? Karena sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya justru mendorong bahkan menerapkan praktik-praktik yang menindas tanpa sadar ataupun tidak. Saya akan mengawali pada sistem politik, sistem politik dari masa pra-revolusi perancis, pasca revolusi prancis, hingga saat ini sistem politik menjadi bagian paling penting pada penerapan praktik penindasan yang dilakukan oleh elit-elit birokrat pada masyarakat. Kebijakan-kebijakan politik dibentuk atas kesepakatan mereka-mereka saja tanpa melibatkan masyarakat yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyara...

Duek Pakat Perdamaian: Generasi Muda Aceh Perkuat Silaturahmi Lintas Iman

Jantho, Aceh Besar -  Generasi muda Aceh dari berbagai latar belakang, lintas agama dan suku berkumpul dalam kegiatan Duek Pakat Perdamaian: Menjalin Silaturahmi Lintas Iman pada 26–27 April 2025 di Jantho Baru, Kabupaten Aceh Besar. Acara yang diinisiasi oleh Peace Generation Aceh ini bertujuan memperkuat kepemimpinan damai anak muda melalui dialog lintas iman, edukasi nilai-nilai perdamaian, serta simulasi manajemen konflik. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan generasi muda yang menjadi motor penggerak masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan damai,” ujar Teuku Avicenna Al Maududdy, Koordinator Umum Peace Generation Aceh. Kegiatan dua hari ini diisi dengan berbagai sesi, seperti refleksi 12 nilai dasar perdamaian, scriptural reasoning (dialog lintas iman berbasis kitab suci), hingga ruang refleksi malam untuk memperkuat solidaritas dan ruang kemerdekaan berpendapat antar peserta. Acara ditutup dengan sesi saling memaafkan untuk mempererat rasa kebersamaan. Ti...