Langsung ke konten utama

"Kemenangan Erdogan dan AKPartisi di Turki dan Pengaruhnya Bagi Dunia Islam"










----SIMPOSIUM DUNIA ISLAM---
"Kemenangan Erdogan dan AKPartisi di Turki dan Pengaruhnya Bagi Dunia Islam"

Pembicara: Abdullah Saleh, SH [Politisi] Ghufran Zainal Abidin, MA [Politisi] Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA [Akademisi] Moderator: Teuku Zulkhairi, MA Tempat: Gedung Sultan Selim II Waktu: Senin, 8 Juni 2015 Jam 09.00 sd 12.00 WIB. Penyelenggara: Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki [PuKAT] Mari hadir.. Contact person: Ariful 085260732025

MENYAMBUT TURKI BARU
Turki lama di bawah tirani rezim sekuler hampir tidak bisa diharapkan oleh dunia Islam. Sistem sekuler yang dipaksakan Mustafa Kamal Ataturk kepada masyarakat Turki telah hampir satu abad menenggelamkan Turki dari kencah peradaban modern. Sejak kekhalifahan Islam Turki Usmani [Ottoman Empire] dibubarkan Ataturk pada tahun 1924, negara itu menjadi pesakitan dalam pergulatan bangsa-bangsa dunia.
Persoalan mendasar yang terjadi pasca keruntuhan Turki Usmani, negara ini berada dalam cengkeraman Tuan-Tuan Istanbul [Lord Istanbul] yang memanipulasi kekayaan dan aset negara untuk kepentingan kelompok mereka. Tuan-tuan Istanbul yang memiliki jaringan dengan Masonik dan kapitalisme internasional ini berpesta pora di atas penderitaan bangsa Turki. Mereka menjadikan rakyat dan negara Turki sebagai “sapi perah” untuk tujuan-tujuan materialisme mereka.
Alhasil, wajah Turki lama sangat kusam. Ekonomi sangat rapuh. Pendidikan terbelakang. Penduduknya miskin. Kebebasan umat Islam menjalankan keyakinanan agamanya yang dipasung. Beginilah gambaran singkat Turki lama dibawah tirani rezim sekuler-kapitalis tuan-tuan Istanbul. Padahal, Turki Usmani sebelumnya adalah salah satu negara adidaya.

Turki baru
Namun, setelah satu dekade silam AKParti [Adalet Kalkimina Partisi] mendominasi jagad perpolitikan di Turki, Turki lama akhirnya perlahan berubah menjadi Turki baru. Recep Tayyip Erdogan sebagai figur sentral AKParti dengan izin Allah Swt selangkah demi selangkah telah membawa Turki ke arah kebangkitan, meskipun tantangan besar senantiasa menghadangnya.

Munculnya Turki baru ini ditandai dengan semakin bergeliatnya pembangunan Turki dalam berbagai bidang.
Dalam perjalanannya, Erdogan paham betul persoalan mendasar Turki lama. Itu sebab, dalam geraknya setelah ia dan partainya menjadi penguasa Turki, Erdogan “memotong” urat nadi tuan-tuan Istanbul yang menjalankan praktek riba dan kapitalisme di tengah-tengah penderitaan bangsa Turki. Aliran kekayaan bangsa Turki, dari sebelumnya mengalir ke tuan-tuan Istanbul ini kemudian diarahkan ke pembangunan infrastruktur Turki, pendidikan dan sebagainya. Bahkan, Turki juga mampu membantu negara-negara lain. Ekonomi Turki bergeliat dan pendidikannya pun semakin maju. Perlahan tapi pasti, militer Turki pun semakin kuat dengan penguatan alustita yang canggih.
Dilansir dari berbagai sumber, Turki baru dibawah Erdogan telah melakukan lompatan ekonomi yang besar, dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun, yang berarti masuknya Turki kedalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia .
Pada saat yang bersamaan, Erdogan telah memberi harapan baru, bukannya hanya bagi umat Islam di Turki namun juga bagi umat Islam sedunia sehingga banyak pihak menyebut bahwa kebangkitan Turki di bawah AKParti dan Erdogan adalah kebangkitan Islam.
Di dalam negeri, Erdogan telah memberi kebebasan bagi umat Islam untuk menggeliatkan syi’ar Islam. Sebagai contoh, Muslimah Turki kini semakin bebas menggunakan pakaian Muslimah setelah sebelumnya dilarang sistem sekuler negara tersebut. Lembaga Pendidikan Islam seperti Madrasah Imam Hatip semakin menjamur dengan siswa-siswinya yang membludak.
Turki baru di bawah kepemimpinan Erdogan juga kian eksis dalam kencah perpolitikan dunia. Negara dua benua ini telah tampil sebagai pemain utama dalam isu-isu yang berkaitan dengan umat Islam dunia. Turki hadir membantu umat Islam di Somalia dan di Crimea. Turki membantu mendamaikan Syprus. Turki membantu rekonstruksi Gaza-Palestina setelah dihancurkan Israel. Turki hadir di Myanmar. Bahkan, Turki juga eksis membantu Aceh saat musibah tsunami memporak-porandakan Aceh 10 tahun yang lalu.

Pendek kata, diakui atau tidak, Turki dibawah kepemimpinan Erdogan dan AKParti telah membawa harapan baru bagi dunia Islam, seperti peran yang pernah dilakukan Turki di masa Turki Usmani masa silam.

Sementara itu, sejarah Aceh mencatat, Aceh dan Turki pada masa silam memiliki hubungan yang sangat akrab. Kisah lada sicupak adalah bagian dari romantisme kedekatan tersebut. Oleh sebab sejarah hubungan dekat di masa lalu ini, maka diskusi ini kita selenggarakan. Harapannya, dalam jangka panjang, hubungan Aceh dan Turki semakin dekat, semakin banyak pula studi-studi tentang Turki di kampus-kampus di Aceh. Dan tentu saja, harapan terbesar kita adalah melihat Turki memainkan peran pentingnya dalam membela dunia Islam yang hari ini terjajah secara internal maupun eksternal [teuku zulkhairi]

Sumber: FB Teuku Zulkhairi
https://www.facebook.com/teuku.zulkhairi/posts/10202817734564323:0

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekofilosofi Deforestasi: Tinjauan Sosial dan Lingkungan di Kota dan Kabupaten Bima

  Oleh: Muhammad Muhajir Ansar & Muhammad Rahul Mulyanto* Deforestasi merupakan kondisi luas hutan yang mengalami penurunan akibat adanya konvensi hutan lahan untuk pemukiman, pertanian, infrastruktur, perkebunan, dan pertambangan. Perubahan lahan hutan menjadi lahan non hutan dapat menyebabkan pemanasan global, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya karena akibat dari kebakaran hutan, dan penebangan kayu yang berlebihan. Deforestasi sangat berkaitan dengan penebangan atau pembalakan liar yang dapat mengancam seluruh makhluk hidup, baik hewan maupun manusia. Kota Bima dan Kabupaten Bima, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki kekayaan alam berupa hutan yang penting bagi ekosistem lokal, dan masyarakat sekitarnya. Namun, alih-alih untuk menjaga kekayaan alamnya, wilayah sedang menghadapi ancaman deforestasi yang sangat signifikan. Perubahan lahan hutan di Bima telah berdampak pada berbagai aspek, seperti, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat, terutam...

Penindasan Tidak Akan Berakhir

  Oleh: Muhammad Rahul Mulyanto* Penindasan bukan bagian dari fenomena baru dalam sejarah umat manusia. Penindasan terjadi sudah berabad-abad yang lalu, dan akan tetap terus ada jika manusia masih menjadi penghuni bumi. Meskipun berbagai macam upaya yang terealisasi untuk melawan, mengakhiri, atau mengurangi praktik penindasan, kenyataannya bentuk-bentuk penindasan masih dirasakan oleh manusia hingga dewasa ini. Mengapa demikian? Karena sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya justru mendorong bahkan menerapkan praktik-praktik yang menindas tanpa sadar ataupun tidak. Saya akan mengawali pada sistem politik, sistem politik dari masa pra-revolusi perancis, pasca revolusi prancis, hingga saat ini sistem politik menjadi bagian paling penting pada penerapan praktik penindasan yang dilakukan oleh elit-elit birokrat pada masyarakat. Kebijakan-kebijakan politik dibentuk atas kesepakatan mereka-mereka saja tanpa melibatkan masyarakat yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyara...

Duek Pakat Perdamaian: Generasi Muda Aceh Perkuat Silaturahmi Lintas Iman

Jantho, Aceh Besar -  Generasi muda Aceh dari berbagai latar belakang, lintas agama dan suku berkumpul dalam kegiatan Duek Pakat Perdamaian: Menjalin Silaturahmi Lintas Iman pada 26–27 April 2025 di Jantho Baru, Kabupaten Aceh Besar. Acara yang diinisiasi oleh Peace Generation Aceh ini bertujuan memperkuat kepemimpinan damai anak muda melalui dialog lintas iman, edukasi nilai-nilai perdamaian, serta simulasi manajemen konflik. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan generasi muda yang menjadi motor penggerak masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan damai,” ujar Teuku Avicenna Al Maududdy, Koordinator Umum Peace Generation Aceh. Kegiatan dua hari ini diisi dengan berbagai sesi, seperti refleksi 12 nilai dasar perdamaian, scriptural reasoning (dialog lintas iman berbasis kitab suci), hingga ruang refleksi malam untuk memperkuat solidaritas dan ruang kemerdekaan berpendapat antar peserta. Acara ditutup dengan sesi saling memaafkan untuk mempererat rasa kebersamaan. Ti...