MEMPERKUAT IDETITAS NASIONAL MELALUI MOMEN DIRAHAYU KEMERDEKAAN KE-72

Image result for pejuang kemerdekaan
ilustrasi Geogle

oleh
Munawwar
Izinkan penulis untuk membuka tulisan ini, dengan membuka sedikit history perjuangan masyarakat Indonesia ataupun kala itu di sebut dengan nama Nusantara dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tentunya perjuangan yang dilakukan tidaklah begitu mudah, banyak nyawa dan harta yang di korbankan agar, penjajahan tersebut segera berakhir, di dalam sejarah kita, mencatat ada 3 negara yang sempat menjajah Indonesia kala itu, pertama, Porugis (1509-1595), Kedua, Belanda (1602-1942), Ketiga, Jepang (1942-1945). Apabila kita mengacu ke berbagai literatur buku maka negara yang paling lama menjajah Indonesia adalah Belanda yaitu selama 350 tahun.
         Mengacu kepada beberapa literatur buku yang penulis baca, sehingga menurut hemat Penulis negara yang paling banyak menyulitkan perjuangan adalah Negara Belanda, seperti yang telah ketahui Belanda memang tergolong sebagai negara yang memiliki kecanggihan persenjataan yang lengkap, tentunya hal ini berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami oleh para pejuang, para pejuang hanya memiliki beberapa senjata rampasan, selebihnya hanya mengadalkan persenjataan tradisional seperti bambu runcing, keris dan sebagainnya.
Tentunya untuk menghadapi hal tersebut pola perjuangan yang dapat untuk diterapkan adalah dengan bergerilya, pola ini menurut hemat penulis adalah sesuatu yang sudah sangat tepat, mengingat adanya keterbatasan persenjataan, akan sangat beresiko apabila mengunakan pola perperangan yang terbuka, akan tetapi ketika mengunakan pola bergerilya, maka satu sisi akan sangat menguntungkan pejuang, mengingat para pejuang telah menguasai medan, setiap jebakan yang dipasang, dinilai sangat ampuh, untuk menghacurkan serdadu Belanda. Tidak bisa kita pungkiri untuk mengusir Belanda membutuhkan waktu selama 350 tahun lamanya, kendati demikian posisi Belanda di gantikkan dengan kedatangan negara Jepang, walapun keberadaan negara Jepang tidak lama, Jepang berada di Indonesia selama kurang lebih 3,5 Tahun.  
 Mari kita Lupakan sejenak, hal tersebut, penulis akan membawa pembaca untuk melihat bagaimana identitas Nasional  berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Kompas tahun 2007, mencatat sebesar 65,9 persen responden menyatakan bangga menjadi orang Indonesia, jumlah ini menurun cukup dratis dibandingkan dengan suara publik lima tahun yang lalu yang mencapai 93,5 persen (Tim Nasional Dosen Pendidikan Kewarganegaraan, 2011:65)
Pada tahun 2002 tercatat hanya 5,1 persen yang menyatakan tidak bangga menjadi warga Indonesia. Pada 2005 meningkat menjadi 23 persen dan pada 2007 menjadi 34 persen. Pendapat tersebut disuarakan secara merata oleh responden dari berbagai kelompok usia (Suwardiman,2007:35).
Acaman disintegrasi belakangan ini kembali sejumlah insiden di beberapa daerah seolah menampar kembali konsepsi Indonesia sebagai sebuah negara bangsa, seperti penusupan aktivis gerakan RMS dalam peringatan Hari Keluarga XIV di Ambon, penurunan bendera Merah Putih. (Sukardiman dan Sugihandari, 2007:5)  
Lalu Apa sebenarnya Pengertian Indetitas Nasional
            Identitas nasional berasal dari kata “national Identity” dapat diartikan sebagai kepribadian nasional ataupun jati diri nasional. Jati diri nasional adalah jati diri yang dimiliki oleh suatu bangsa. Setiap bangsa memiliki jati diri yang berbeda-beda, jati diri bangsa Indonesia sangat berbeda dengan jatidiri negara Amerika, Inggris dan negara lainnya. Oleh sebagai itu ciri khas inilah yang disebut dengan Identitas.
            Menurut hemat penulis identitas ini semakin lama akan semakin menurun. Ada tiga hal utama yang membuat identitas ini semakin pudar dan secara perlahan-lahan akan menghilang. Yang pertama, Penegakan Hukum yang tidak jelas, tentunya penegakan hukum menjadi supremasi yang cukup tinggi untuk menumbuhkan kecintaan kepada bangsa khusus kepada bangsa Indonesia, apabila kita melihat realita yang terjadi penegakan hukum kita berat sebelah, penulis akan memberikan salah satu contoh kasus yaitu kasus yang dialami oleh mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah  yang hanya dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda 200 Juta rupiah. Ratu Atut telah melakukan suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar sebesar 1 Milyar Rupiah untuk memenangkan gugatan yang diajukan oleh Amir Hamzah dan Kasmin. Bandingkan dengan kasus nenek yang mencari singkong karena kelaparan dan dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara. (sumber: Pontianakpost.co.id).
            Kedua, Korupsi, tentunya korupsi di negara kita seakan akan sangat sulit untuk membunuh yang satu ini, banyak pihak yang melakukan hal ini, mantan Menteri Agama Suryadharma Ali, politisi Pks Luthi Hasan Ishaaq, Mantan Jubir Presiden SBY Andi Malarangeng dan lain-lain, dan juga ada 122 anggota DPR/DPRD dan 1 anggota DPD yang diproses KPK, sebagian besar karena kasus suap. (sumber, http://www.antikorupsi.org/id/content/bulan-pendidikan-nasional-yang-muda-yang-antikorupsi)
            Ketiga, Kemiskinan di negeri yang kaya sumber daya alam, tidak ada satupun yang bisa membatah bahwa negara Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, atas dasarnya juga yang memikat perhatian negara penjajah semisal Portugis, Belanda, dan Jepang. Padahal jika melihat realita tersebut maka sudah barang tentu tidak ada masyarakat Indonesia yang berada dalam kemiskinan, akan tetapi itu hanya tingal harapan kita. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Pusat mencatat penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan hingga septeber 2015 mencapai 28,51 juta atau 11,13% dari total penduduk indonseia ( sumber: koran sindo.com)Pada maret 2016 jumlah penduduk miskin di indonesia mencapai 28,01 juta orang 10,86 persen.(sumber :BPS Pusat).
            Tidak lama lagi Indonesia akan memperingati kemerdekaan yang ke 72 tahun, tentunya momen ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, karena peringkatan ini bukanlah acara seremonial semata melainkan memiliki berbagai makna, pertama, mengembalikan ingatan terhadap perjuangan dilakukan oleh para pejuang. Kedua, memaknai kembali kelahiran negara ini, sebagai perwujutan menghimpan beragam perbedaan, bahkan semboyan negara kita ialah Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi satu, yaitu negara Indonesia. Ketiga, untuk menumbuhkan kembali kecintaan berbagai generasi tua dan muda terhadap keberadaan negara ini. 
        Menurut hemat penulis momen dirgahayu ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, apalagi secara perlahan-pelan banyak rakyat Indonesia yang mulai pudar kencitaan kepada bangsanya. Di tambah lagi persoalan yang telah penulis sebutkan di atas. Persoalan tersebut harus di atasi harus di temukan solusi yang tepat.
            Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang sangat cocok untuk diterapkan pada momen dirgahayu ini, untuk mengembalikan identitas nasional kita, pertama, mendesign kegiatan untuk mengingat kembali perjuangan yang dilakukan oleh pejuang, salah satu contoh kegiatannya ialah drama, dan juga pembacaan puisi. Kedua, memutar kembali rekaman sejarah dahulu, pemutaran ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat kepada negeri ini. Ketiga, mengintruksi kepada seluruh kepala desa untuk mengumpulkan masyarakat dan anak-anak, dengan menciptakan aneka lomba yang cocok untuk mereka, seperti rangki satu namun, pertanyaan seputuran perjuangan para pejuang dan sebagainnya. Menurut hemata penulis secara perlahan-lahan, kecintaan masyarakat kepada negeri ini akan segera kembali meningkat. Semoga hal tersebut akan segera terwujud di negeri kita, Aamin.




Share on Google Plus

About munawar sigli

Penulis adalah pegiat Political Club. Isi dan konten tulisan menjadi tanggung jawab penulis. Lihat Daftar Kontributor.

0 komentar:

Post a Comment