Pesan Terakhir


sumber : koleksi foto blogger


SETIAP manusia telah diciptakan saling berpasangan, tapi tidak semua orang bisa mencintai dengan mudah juga menjalani hubungan romansa mereka begitu damai tatkala timbul percikan api dari berbagai permasalahan yang terkadang sewaktu-waktu datang menghampiri. Nama pemuda itu adalah Haylan Rahman. Seorang laki-laki yang rajin bekerja dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Seperti hal-nya manusia tanpa cela, Haylan juga memiliki sifat buruk. Ia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain ketika dirinya dipenuhi kemarahan. Melontarkan kata-kata menyakitkan hati dengan begitu mudahnya. Meski demikian bukan berarti ia tidak mengenal pengasihan, terlebih lagi perasaan cinta. Ya, Haylan sedang jatuh cinta.
Untuk pertama kalinya kupu-kupu di dalam perutnya berterbangan bebas. Terbang menuju ke arah sosok perempuan sederhana, Mentari Indah Sari. Baginya ia begitu manis dan ramah tamah berbeda dengan kebanyakan perempuan yang pernah ditemui. Meski lumrah, Mentari bisa mengambil hatinya dalam sekali pandang. Terlebih lagi kekagumannya semakin besar, mengetahui bahwa gadis itu tidak pernah berubah penampilan meski tinggal lama dalam hingar bingar kota metropolitan. Berjalan seiringnya waktu Haylan berusaha mendekati gadis pujaannya itu. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kasih sayangnya belum terbalaskan oleh Mentari. Ia memasuki zona Friend-Zone. Tak ambil pusing, Si lelaki bersandar di tiang listrik di persimpangan jalan sembari memandangi layar ponselnya. Didalamnya terdapat foto Mentari yang tersenyum manis, semanis yang dilihatnya sekarang. Ia melambaikan tangan ke arahnya.
“Bagaimana pekerjaan kamu hari?” Tanya Haylan.
“Aku tidak tahu.” Balas Si gadis lesu. “Ini menyebalkan, bos-ku menyuruhku mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibanku.” Imbuhnya dengan nada sedikit tinggi dan merengut.
Alih-alih prihatin, Haylan malah tersenyum melihat ekspresi kekesalan itu. Imut sekali, . . Pemuda itu mengenggam tangan Mentari. “Ayo, kita makan sesuatu.”
“Aku lelah.” Mentari menolak.
“Hanya sebentar, aku yang traktir.”
“Aku tidak mood hari ini, lain kali saja.”
“Aku belum makan, nih . .” Haylan berpura-pura lesu lalu segara menambahkan. “Aku tidak ingin makan sendirian. Makanlah bersamaku, hm?” Ia membukakan pintu mobil, meminta Mentari segera masuk.
Si gadis mendesah. "Iya, deh.”
Dalam perjalanan menuju rumah makan favorit Haylan tidak ada perbincangan dari keduanya hingga sampai tujuan. Sekali lagi, pria itu menggandeng tangan Mentari mengikutinya menuju dudukan kursi di dekat jendela. Seorang pelayan berjalan menghampiri mereka dan bertanya ramah.
“Mau pesan apa?” Tanyanya seraya memegang buku kecil dan pena.
Haylan masih fokus melihat daftar menu makanan. “Aku ingin jus alpukat dan nasi goreng.” lalu beralih cepat ke arah Mentari yang terlihat masih malas. “Kau mau pesan apa?”
“Jus lemon.” Jawabnya.
“Hanya itu? Cobalah makan sesuatu__”
Mentari memotong perkataan Haylan yang mendengus. “Maaf . .” Tersenyum kepada pelayan yang masih menunggu. “Tolong jus lemon-nya ditambahkan susu sedikit.”
“Oh, baiklah. Ada pesanan yang lainnya?” Tanya Si pelayan lagi.
“Tidak, itu saja.” Jawab Mentari.
Haylan mengeryitkan dahi. “Kau sehat? apa kau baik-baik saja.”
“Kenapa memandangiku seperti itu?”
“Aku tanya apa kau sehat?”
“Kenapa?”
“Ah, lupakan saja.”
Giliran Mentari yang mengerutkan dahi. “Apa, sih? Di perjelas, dong.”
“Akh, kita makan dulu.” Haylan kembali mengalihkan pembicaraan, Sementara gadis itu sudah kepalang dua kali lebih –bad mood-. Ia paling anti dengan sesuatu yang membuatnya penasaran setengah mati. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan mendesah berat. Setelah sekian lama pemuda itu melakukan pendekatan, ia akhirnya memutuskan untuk mencoba melamar Mentari indah sari.
“Menikahlah denganku.” Lugasnya.
“Kau mabuk, ya?”
“Tidak, aku serius. Kita bisa pacaran dulu sebelum memantapkan perasaanmu kepadaku. Cobalah, dan beri aku kesempatan untuk membuatmu yakin.” Alih-alih menjawab ucapan Si pria, Mentari hanya menerawang di atas langit yang nampak mulai gelap. Ia mengambil tas-nya dan berdiri.
“Aku pulang dulu.”
“Tu, Tunggu! Makanlah dulu.”
“Makanlah sendiri, aku harus pulang.”
“Aku antar kau pulang!”
Gadis itu memberi satu pukulan telak dengan alasan tidak ingin menikah muda, memfokuskan diri membahagiakan keluarganya. Penolakan tegas itu memang membuat Haylan putus asa tapi tidak membuatnya menyerah. Si pria terus berusaha membujuk sampai-sampai memutuskan urat berani mendatangi kediaman keluarga besar Mentari. Kesungguhan laki-laki itu berbuah manis, akhirnya Si gadis menerima pengakuan cinta Haylan Rahman. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Pemuda itu sudah mempersiapkan sebuah cincin untuk mempersunting kekasihnya. Tanpa sengaja Ibu Haylan melihat kotak berpita merah di atas meja kamar Sang anak.
“Gadis mana yang akan kau lamar?” Tanyanya tiba-tiba.
“Mentari Indah Sari.” Jawab Haylan sumringah.
“Siapa orang tuanya?”
“Orang tuanya dari desa, penjual sayur. Meski begitu mereka memiliki sopan santun yang luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang baik.”
Keingintahuan Ibunya langsung lenyap tatkala mendengar penjelasan dari sang anak. Jelas, ia menentang keras hubungan keduanya. Meminta Haylan untuk segera mengakhiri percintaan mereka. Tidak mempedulikan larangan Si ibu, Pemuda itu masih bersikukuh mempertahankan Mentari disisinya. Merasa diabaikan akhirnya ibunya menemui gadis itu secara terang-terangan. Menghina keluarganya dengan penuh caci makian yang akhirnya berhasil membuat Mentari kepalang sakit hati. Meski ia mencintai Haylan Rahman dengan tulus, tapi orang tuanya jauh lebih berharga ketimbang cinta yang tidak ada ujung pangkalnya. Setelah insiden itu, Haylan sulit menemui Mentari, ia selalu di hindari bagaikan manusia kasat mata. Panggilan telepon dan kiriman pesan semua tidak dihiraukan.
DUA bulan berlalu. Setelah sekian lama tidak saling komunikasi. Haylan mencoba mengirim beberapa pesan singkat untuk Mentari untuk kesekian kali.
 [ Aku merindukanmu, aku ingin menemuimu untuk terakhir kali. Maafkan atas semua perlakukan ibuku kepada keluargamu dan, kamu. ] [ Bagaimana kabarmu? ] [ Kamu sudah makan? ] [ Apa kamu baik-baik saja? ] [ Aku akan pergi ke Banda Aceh bersama teman. Jaga kesehatanmu, juga sampaikan salamku untuk orang tuamu. ] 
Setiap hari kesedihan, kecemasan, kerinduan itu tercampur jadi satu kesatuan dalam ketikan pesan yang terkirim. Ia berharap Mentari mau membalasnya walau sekali. Tapi ia juga tidak berharap lebih mengingat ibunya telah menginjak-nginjak harga diri kekasihnya. Di kejauhan tempat, Mentari juga merasakan kepahitan itu namun ia tidak bisa berbuat apa pun selain membaca pesan-pesan kiriman tanpa balasan. Haylan tengah mengendarai sepeda motornya untuk menjemput Andre. Sesampainya disana temannya sudah berdiri di ambang pintu. “Berangkat gak, nih?” Seru Haylan.
 “Iya-lah!!” Jawab Andre bergegas menjinjing tas ransel miliknya, berjalan terburu-buru lalu menempatkan pantatnya di kursi belakang penumpang. “Ayo!” tambahnya.
“Hei, ini bukan mobil! Jangan main hantam saja, duduk yang benar.”
“Sorry~.. Ngomong-ngomong ibumu tahu kita akan pergi?”
 “sudah tahu, santai saja.” Haylan mulai melajukan kendaraannya. Andre mengangguk-angguk seraya membenarkan posisi duduknya. Selama perjalanan menuju kota Banda Aceh tidak sedikit mereka mengalami kendala. Seperti sekarang, cuaca yang panas menuntut mereka harus berjalan kaki menuntun sepeda motor yang mendadak kempis di sekitaran SD Lampisang. Keduanya mengedarkan pandangan mencari perbengkelan. Kebetulan bengkel mini tambal ban terlihat dipersimpangan. Beberapa menit menunggu perbaikan, akhirnya keduanya melanjutkan perjalanan yang tertunda menuju Banda Aceh. Nasib sial pun tak bisa tercegah di Simpang Lampakuk. Tanpa disangka mereka tertabrak mobil FUSO ketika hendak memutar arah.
Tubuh Haylan terhempas ke parit dengan leher yang tertancap batu runcing. Sementara temannya hanya tergeletak dipinggir jalan. Semua orang yang berada di tempat kejadian langsung berteriak histeris melihat kecelakaan dadakan itu. Salah satu dari kumpulan mencoba menelepon polisi dan ambulans sekaligus. Keduanya di periksa intensif oleh pihak rumah sakit. Haylan dinyatakan meninggal dunia sementara Andre dalam keadaan kritis. Dengan segala informasi lengkap dalam dompet Si pemilik, Haylan segera dipulangkan ke rumah duka setelah berhasil menghubungi pihak keluarga. Mentari menangis meraung-raung mendengar kematian itu. Ia tidak menyangka bahwa pamitnya Haylan menuju Banda Aceh bisa membuatnya merenggang nyawa. Ia menyesal tidak merespon perhatian Sang pria terlebih lagi pesan terakhirnya. Tanpa malu ia membuang segala gengsi dan pesakitan itu untuk melayat ke pemakaman Haylan Rahman. Alih-alih mendapat kesempatan, justru ia mendapat perlakuan kasar untuk kedua kali. Mentari di usir secara tegas oleh ibu Haylan. Gadis itu hanya sabar menerima dan menunggu dari kejauhan. Mencari waktu seorang diri ketika kerumunan orang-orang itu pergi meninggalkan tempat. Mentari duduk lemas dengan tangisan yang tiada henti memeluk erat batu nisan yang mencantumkan nama pria yang dicintainya [ Haylan Bin Mahmud. ] “Selamat tinggal, kekasihku.”


Nama saya Zulfita Rahmi yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala.
Share on Google Plus

About PoliticalClub

Penulis adalah pegiat Political Club. Isi dan konten tulisan menjadi tanggung jawab penulis. Lihat Daftar Kontributor.

0 komentar:

Post a Comment